Fakta, data, dan akar penyebab masalah kesuburan tanah yang mengancam swasembada pangan berkelanjutan.
Bukan satu penyebab tunggal — masalah kesuburan tanah Indonesia adalah tumpukan tekanan fisik, kimiawi, biologis, dan sosial-ekonomi.
>70% sawah intensif memiliki C-organik <2%, jauh di bawah ambang sehat 3–5%.
Zn, Cu, B, Mo, Fe, Mn terkuras — memupuk NPK saja tidak menutup defisit ini.
pH turun akibat urea & ZA berlebih; Al dan Mn menjadi toksik bagi akar.
Di sejumlah DAS erosi mencapai 60 ton/ha/tahun, mengangkut topsoil paling subur.
Bulk density naik akibat alat berat & pengolahan intensif; aerasi & infiltrasi anjlok.
Akumulasi garam di zona pesisir & lahan beririgasi dangkal menekan produktivitas.
Pestisida & pupuk kimia dosis tinggi merontokkan biomassa mikroba dan mikoriza.
Residu pestisida & logam berat dari pupuk anorganik menumpuk di lapisan olah.
Konversi hutan & sawah ke non-pertanian menghilangkan lahan subur permanen.
Indonesia memiliki ~36,8 juta ha lahan rakyat & non-HGU dan ~9,78 juta ha perkebunan HGU. Tapi 'mesin' produksi pertanian ini sedang aus.
Erosi air & angin, kerusakan struktur tanah, penurunan aerasi & kapasitas ikat air, penggenangan.
Asidifikasi (pH turun), pengurasan & pencucian hara, ketidakseimbangan unsur, salinisasi, pencemaran agrokimia.
Penurunan karbon organik tanah, hilangnya keanekaragaman mikroba, penurunan karbon biomasa.
Studi 1950–1999 mencatat penurunan kandungan nutrisi 43 tanaman pangan: protein −6%, kalsium −16%, besi −15%, vitamin B2 −38%, vitamin C −20%.

Tanaman butuh 22–26 unsur hara untuk tumbuh optimal. Pupuk NPK standar hanya menyuplai 3. Selisihnya — 19–23 unsur — terus terkuras tiap musim tanpa pengganti.
>70% sawah intensif punya bahan organik <2%. Aplikasi urea dosis tinggi menguras 15 unsur hara lainnya. Di Delanggu (Jateng) terdeteksi defisiensi Zn dan Cu pada padi.
Di beberapa DAS, erosi mencapai 60 ton/ha/tahun — menurunkan panen hingga 40%. Hujan tinggi mencuci N, K, dan unsur mikro ke lapisan dalam atau badan air.
Penanaman jenis sama berulang menguras unsur spesifik. Sebagian besar petani memupuk berdasarkan 'kebiasaan', bukan uji tanah.
Konversi hutan menjadi lahan intensif (mis. dataran tinggi Probolinggo) menghasilkan lahan miskin bahan organik, banjir, dan penurunan produksi.
Tanah bukan sekadar 'tempat tumbuh' tanaman. Ia adalah sistem hidup kompleks yang membutuhkan keseimbangan lengkap 22–26 unsur hara. Ketika sistem ini terganggu, tidak ada jumlah pupuk NPK yang cukup untuk memulihkannya tanpa restorasi menyeluruh.